Skip to main content

Tentang HUT RI ke 76



Kemarin Indonesia genap berusia 76 tahun. Tidak ada perayaan yang spesial, tidak ada ucapan-ucapan optimis yang berlebihan di tahun ini. Mungkin karena suasana pandemi dan PPKM yang masih saja terus diperpanjang. Banyak rakyat yang masih kesulitan, sulit sekali optimis di hari-hari belakangan ini. Bahkan untuk teriak merdeka dengan lantang saja terasa berat dan kata-kata seperti tertahan di tenggorokan.

Suasana di komplek rumah juga hampir sama. Kalau tahun kemarin benar-benar sepi tidak ada perayaan apapun, tahun ini dari pengurus RT berusaha bikin penyesuaian. Lomba via online hihihi.. lomba foto keluarga, foto balita, lomba nyanyi kemerdekaan, lomba bikin video, baca proklamasi, semua jenis lomba yang bisa dikerjakan mandiri di rumah dan hasilnya dikirim via whatsapp untuk kemudian dinilai juri. Ide yang cukup bagus menurutku, bikin penyesuaian untuk menghindari kerumunan. Tapi sayangnya yang partisipasi sedikit.. mungkin warga sudah terlalu mager dan males mikirin konsep. Yang namanya lomba foto dan bikin video gitu kan harus mikirin outfit, mikir tema unik, tapi informasi lombanya juga mepet banget jadi ga heran yang ikut ga banyak.

Suami semangat ikutan karena dia termasuk pengurus RT wkwkwk.. masa yang urun rembuk mikir lomba ga ikutan. Yasudahlah kami menjalankan komando sesuai bapak kepala negara saja. Anak-anak juga seneng difoto-foto sambil menyalurkan kenarsisan masing-masing. Hingga akhirnya tgl 16 kemarin pengurus rapat dadakan.. antusiasme warga yang sangat minim membuat mereka putar otak, terutama mikir gimana caranya anak-anak tetap merasakan semangat hari kemerdekaan. Dan akhirnya diambilah keputusan, lomba anak-anak tetap jalan di hari H dengan berpedoman pada kata sakti "Tetap Mengikuti Protokol Kesehatan". Lomba anak-anak jalan, tapi panggung hiburan yang biasanya jadi ajang karaoke dan penyaluran bakat warga tidak diadakan.

Dan kemarin sukses juga lomba seperti biasa.. pakai masker tentu saja.. awalnya masker terpasang rapi di wajah anak-anak, lama-lama mlorot ke leher seiring bertambah seru dan panasnya lomba-lomba yang diadakan. Semoga setelah 17an ini ga ada cerita tetangga yang harus isoman karena kena covid, hiks.. tapi warga yang ikut serta kemarin sudah tau risikonya plus rata-rata orang dewasanya sudah pada vaksin meski ada juga yang baru vaksin tahap pertama. Bagi warga yang khawatir tetap memantau lomba dari grup wa RT saja sambil kasih semangat dari rumah. It's fun..kami ga mau terlalu murung dengan suasana pandemi ini.

Di Indonesia sedang merayakan hari kemerdekaan, di Afghanistan sedang bergejolak karena pemerintahannya baru saja diambil alih pihak Taliban. Banyak warga yang berebutan mengungsi dari tanah airnya untuk mencari tempat baru yang bisa mereka jadikan rumah. Peristiwa itu bikin aku kembali lagi untuk mensyukuri kemerdekaan, meski banyak permasalahan, meskipun pemerintahannya bikin keki setengah mati, tapi negeri ini masih bisa dengan nyaman aku sebut sebagai rumah.

Tidak ada kehidupan yang sempurna, kita ga akan benar-benar merdeka dari rasa aman, rasa lapar, dan betul-betul bebas melakukan apapun yang kita inginkan.. (kecuali anda adalah pengusaha tambang yang kaya raya dan dekat dengan penguasa) Tapi bangun tidur dan tidak khawatir rumah kena sasaran rudal atau dimasuki pasukan bersenjata yang sedang konflik adalah nikmat yang terkadang jarang kita syukuri. Terlalu enteng kadang jika ada yang bilang "kita belum merdeka" padahal di belahan dunia lain masih banyak orang yang ingin mencicipi apa yang kita nikmati sebagai warga negara yang tidak dijajah siapapun dan tidak sedang dalam konflik apapun.

Masalah terbesar kita hanyalah kita belum pernah betul-betul dipimpin orang-orang yang mumpuni, orang-orang yang bijaksana, dan mau bekerja dengan tulus untuk kemajuan bangsa. Terlalu lelah Indonesia diacak-acak politisi, dan aku sudah terlalu letih baca berita politik. Duh jadi serius gini...

Paragraf terakhir, semoga Indonesia semakin membaik, diberikan pemimpin yang baik dan berhati tulus. Mungkin belum sekarang, semoga segera datang.. aamiin...

Comments

Popular posts from this blog

Aku, Sekolah Online dan Belajar Membaca

Bolak balik buka draft postingan soal pandemi karena aku seperti berhutang untuk nulisin pendapatku tentang pandemi dan segala permasalahannya, tapi percayalah semakin aku tulis semakin aku ga bisa menjelaskan secara baik dan sederhana hingga enak dibaca dan dimengerti. Terlalu banyak yang sudah terjadi selama setahun setengah pandemi ini berjalan, terlalu kompleks untuk dijabarkan. Mungkin karena aku bukan ahli virulogi atau ahli vaksin, yang aku tahu adalah aku harus menjaga diriku, kesehatanku, menjaga keluarga, orang2 tersayang dan beradaptasi dengan segala perubahan yang terjadi. Termasuk beradaptasi dengan PJJ, Pembelajaran Jarak Jauh. Anak pertamaku, si Kakak sudah masuk SD pertengahan Juli kemarin. Awalnya aku sudah optimis sekolah akan kembali normal karena pada saat daftar sekolah tren covid seperti melandai, kasus tetap ada tapi sepertinya kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Hingga kemudian varian delta datang, ditambah mudik lebaran yang meski sudah diperketat tapi te...

Tentang Kembali Menulis

Entah sudah berapa kali update blog. Setelah melewati beberapa fase hidup dan menengok lagi blog-blog jaman dulu kok rasanya sudah ga relevan lagi untuk aku yang sedang menjalani peran sebagai ibu dari dua anak yang manis-manis. Kemarin sudah sempat update blog dan tulis tipis-tipis pengalaman menjadi orang tua dengan tema-tema parenting, tapi kok tulisannya ga gue banget yha ☺akhirnya hapus lagi dan vakum lama banget ga nulis. Hingga kemudian masuklah ke tahun 2020 dan banyak kondisi yang berubah. Yup, semua berubah karena hingga saat aku nulis blog ini, ada virus yang bikin semua kebiasaan yang dulu biasa aja kemudian sekarang menjadi sebuah kemewahan dan keistimewaan. Kami di dunia ini sedang dalam masa pandemi karena penyakit covid19. Sekolah ditutup, pekerja bekerja dari rumah, orang kemana-mana pakai masker. Mungkin di postingan berikutnya mau banyak curhat soal pandemi ini, tapi untuk sekarang sebagai pemanasan cukup nulis dikit aja biar jari-jari agak lemesan. Semoga kedepannya...