Kemarin Indonesia genap berusia 76 tahun. Tidak ada perayaan yang spesial, tidak ada ucapan-ucapan optimis yang berlebihan di tahun ini. Mungkin karena suasana pandemi dan PPKM yang masih saja terus diperpanjang. Banyak rakyat yang masih kesulitan, sulit sekali optimis di hari-hari belakangan ini. Bahkan untuk teriak merdeka dengan lantang saja terasa berat dan kata-kata seperti tertahan di tenggorokan. Suasana di komplek rumah juga hampir sama. Kalau tahun kemarin benar-benar sepi tidak ada perayaan apapun, tahun ini dari pengurus RT berusaha bikin penyesuaian. Lomba via online hihihi.. lomba foto keluarga, foto balita, lomba nyanyi kemerdekaan, lomba bikin video, baca proklamasi, semua jenis lomba yang bisa dikerjakan mandiri di rumah dan hasilnya dikirim via whatsapp untuk kemudian dinilai juri. Ide yang cukup bagus menurutku, bikin penyesuaian untuk menghindari kerumunan. Tapi sayangnya yang partisipasi sedikit.. mungkin warga sudah terlalu mager dan males mikirin konsep. Yang nama...
Bolak balik buka draft postingan soal pandemi karena aku seperti berhutang untuk nulisin pendapatku tentang pandemi dan segala permasalahannya, tapi percayalah semakin aku tulis semakin aku ga bisa menjelaskan secara baik dan sederhana hingga enak dibaca dan dimengerti. Terlalu banyak yang sudah terjadi selama setahun setengah pandemi ini berjalan, terlalu kompleks untuk dijabarkan. Mungkin karena aku bukan ahli virulogi atau ahli vaksin, yang aku tahu adalah aku harus menjaga diriku, kesehatanku, menjaga keluarga, orang2 tersayang dan beradaptasi dengan segala perubahan yang terjadi. Termasuk beradaptasi dengan PJJ, Pembelajaran Jarak Jauh. Anak pertamaku, si Kakak sudah masuk SD pertengahan Juli kemarin. Awalnya aku sudah optimis sekolah akan kembali normal karena pada saat daftar sekolah tren covid seperti melandai, kasus tetap ada tapi sepertinya kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Hingga kemudian varian delta datang, ditambah mudik lebaran yang meski sudah diperketat tapi te...