Bolak balik buka draft postingan soal pandemi karena aku seperti berhutang untuk nulisin pendapatku tentang pandemi dan segala permasalahannya, tapi percayalah semakin aku tulis semakin aku ga bisa menjelaskan secara baik dan sederhana hingga enak dibaca dan dimengerti. Terlalu banyak yang sudah terjadi selama setahun setengah pandemi ini berjalan, terlalu kompleks untuk dijabarkan. Mungkin karena aku bukan ahli virulogi atau ahli vaksin, yang aku tahu adalah aku harus menjaga diriku, kesehatanku, menjaga keluarga, orang2 tersayang dan beradaptasi dengan segala perubahan yang terjadi. Termasuk beradaptasi dengan PJJ, Pembelajaran Jarak Jauh.
Anak pertamaku, si Kakak sudah masuk SD pertengahan Juli kemarin. Awalnya aku sudah optimis sekolah akan kembali normal karena pada saat daftar sekolah tren covid seperti melandai, kasus tetap ada tapi sepertinya kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Hingga kemudian varian delta datang, ditambah mudik lebaran yang meski sudah diperketat tapi tetap saja ada yang pulang ke kampung halaman. Termasuk aku dan keluarga tapi kami berangkat setelah peraturan penyekatan diperlonggar polisi. Kapan2 aku mau cerita juga soal ini karena pasca mudik tersebut kami sekeluarga kena giliran terpapar covid :))
Kembali soal sekolah.. sejujurnya aku sangat menghindari sekolah online ini, sangat merepotkan dan buatku ga efektif. Awal pandemi aku sempat merasakan, waktu itu si Kakak masih TK A semester 2 sekolah TKnya mulai "ditutup" dan PJJ dimulai. Hanya 2 mingguan belajar online karena akhirnya PJJ dihentikan dan hanya diberikan tugas harian saja hingga menunggu hari pembagian raport. Tapi 2 minggu itu rasanya lumayan repot juga. Mungkin kalau untuk tingkat pendidikan yang lebih tinggi tugasnya bisa ambil dari LKS dan buku paket. Tapi kalau anak TK tugasnya tentu beraneka ragam. Dari bikin ketrampilan, gambar2, hafalan surat pendek, dan video yang mendokumentasikan kalau mereka di rumah tetap aktif dan terstimulasi. Jangan lupa zoom biar sama ibu guru tetap akrab, tapi zoom ini soal lain karena ga semua anak2 nyaman tatap muka via zoom. Banyak yang malu2 meski sudah kenal guru dan teman2nya. Namanya juga anak TK ya, lucu2 tingkahnya.
Dengan banyaknya drama dengan PJJ ini dan mengetahui TK B nanti akan tetap tidak masuk ke sekolah jadi aku putusin untuk ga lanjut TK B dan masukin ke les calistung aja, hitung2 persiapan masuk SD karena TK si Kakak tidak mengajarkan baca di usia dini, sambil berdoa pas masuk SD semua sudah normal kembali.
Tapi ternyata situasi makin parah, pasca lebaran kemarin rumah sakit penuh, banyak yang terpapar. Bahkan di cluster rumah ganti2an tetangga yang isoman, ada yang meninggal juga saat isoman. Cukup sedih lihat berita kematian di mana-mana. Ya sudah aku harus adaptasi, mungkin untuk saat ini keputusan mendikbud untuk tetap PJJ adalah langkah yang paling aman. Aku bertekad meskipun sedang PJJ si Kakak harus tetap mendapat pemahaman yang baik mengenai materi2 di sekolahnya, toh memang aku senang ikut membersamai belajar si Kakak, hitung2 jadi tahu kurikulum anak sekarang tuh kayak apa. Tapi jujur saja, aku baru menyadari kalau PJJ ya harus siapin stok sabar yang buanyaaaak bgt dan manajemen waktu yang baik. Ini yang ga aku antisipasi di minggu pertama. Kakak antusias belajar tapi kadang ada saatnya dia langsung pasang mode males pas diajarin baca. FYI meski masuk SD tidak diharuskan sudah bisa baca, tapi lancar baca menjadi benefit tersendiri untuk si anak. Karena kurikulum dengan buku tematik ini membuat anak seperti dipaksa berlari untuk memahami konteks bacaan, makanya aku maklum banget kalau SD negeri bikin batasan usia 7 tahun untuk bisa mendaftar karena diharapkan di usia tersebut anak2 sudah lebih mampu mengikuti materi yang diberikan dan emosi yang sudah lebih stabil.
Kakak ini masuk SDIT dimana usia 6 tahun adalah batas minimal persyaratan masuk sekolahnya, dan Kakak bener2 pas banget 6 tahun lebih sebulan usianya di Juli kemarin. Saat mulai pembelajaran membaca via zoom aku perhatikan sebagian besar temannya Amirah sudah lebih lancar dan matang dalam membaca, dan sayangnya itulah kelemahan Kakak saat ini yang membuat dia agak minder pas kelas membaca online. Meski setahun dia les baca tapi bacanya belum lancar. Masih sering lupa huruf, masih sering terbalik saat mengeja dan sangat tidak fokus dengan tulisan yang dia baca. Dan ini bikin aku cukup frustasi juga di minggu awal PJJ hingga kemudian aku introspeksi dan menyimpulkan bahwa pendekatanku ke Kakak soal baca ini tidak bisa disamakan dengan caraku atau cara ayahnya dulu saat kecil. Kakak sudah baik dalam soal logika, dia bisa menjawab pertanyaan2 dari buku LKSnya tanpa bantuanku, tapi diajarin baca fokusnya lari kemana-mana.
Kadang aku mikir apakah Kakak termasuk anak ADHD? Kakak memang cukup aktif, tapi kalau tindakan impulsif sih tidak ya, memang sulit fokus dan lebih suka gerak saja. Makanya aku berkesimpulan ga bisa kasih materi yang banyak saat mengajari dia baca. Harus pelan-pelan dan ga boleh pakai emosi. Ini yang sulit, kita sudah semangat ngajarin tapi anaknya ogah2an dan cenderung ga mau lihat huruf2nya kan cukup memancing keributan ya :))
Tapi aku ingat bahwa mungkin Kakak ini berbeda, jadi perlu waktu lebih untuk hati dan pikirannya hadir saat pelajaran membaca. Dan memang saat aku berusaha sabar dan memberi sedikit waktu lagi agar dia mulai "panas" semua berjalan lebih baik. Hingga saat ini Kakak masih belum lancar baca, tapi aku yakin keadaan akan semakin membaik. Aku dan Kakak masih semangat.
Sekarang sudah masuk minggu kedua PJJ, guru2nya cukup membantu, tugas2nya tidak memberatkan dan masih masuk akal. Aku pernah dapat cerita dari tetangga yang anaknya SDXX tugasnya berlembar-lembar dan gurunya ga kasih pengantar materi. Ada juga tetangga yang anaknya masih TK B favorit tapi tugasnya tiap hari harus setor 4 video kegiatan anak belum lagi PR lainnya. Duh para ibu, semoga sehat lahir batin ya.
Kesimpulan lain dari PJJ ini adalah "Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, dan pada anakmu juga" Toleransi itu perlu, tidak ada yang namanya zero mistake, terlebih di kondisi yang tidak menguntungkan seperti ini. Dan aku perlu sering2 mengingatkan itu kediriku sendiri. Demi anak yang lebih happy dalam belajar, dan demi aku yang lebih sehat jiwa dan raganya. Hingga saat ini aku sudah lebih enjoy dalam membersamai PJJ anak, sudah tidak terlalu tegang. Semoga kedepannya tetap asik seperti ini hehe..
Selama pandemi masih terjadi, satu2nya yang bisa kita lakukan adalah adaptasi dan bertahan. Semoga kita, seluruh rakyat Indonesia bisa keluar dari terowongan gelap pandemi ini menuju cahaya dan masa depan yang lebih terang. Aamiin...

Comments
Post a Comment